Bebukitan hijau yang diselimuti perkebunan, berpadu dengan aroma tembakau khas menyambut siapa saja yang melewati jalanann berkelok menuju Desa Dayunan. Pemandangan asri ini seolah menawarkan ketenangan. Namun di balik keelokan itu, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang pelik.
Di balik gelap malam yang menyelimuti Desa Dayunan, ancaman yang dirasakan warga bukan lagi berkaitan dengan setan-setan atau mitos kuno, melainkan setan berwujud “PT fiktif” yang setiap bulannya melakukan kriminalisasi dan mencoba merebut lahan garapan warga. Ancaman ini nyata, menghantui setiap jengkal tanah yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Hadir bagai bayangan yang selalu mengikuti langkah warga.
Dalam dinginnya kawasan kaki Gunung Prau, suasana hangat terjalin antar petani dan teman-teman jaringan yang tergabung dalam Aliansi Pagar Tani. Mereka tidak membiarkan rasa takut menguasai diri. Salah satu sosok yang menjadi simbol keteguhan ini adalah Mbah Ropi’i. Sebagai seorang petani setempat, Mbah Ropi’i tak pernah sekalipun terlihat lelah dengan aksi-aksi yang selama ini ia gaungkan demi mempertahankan hak atas tanahnya.
Dengan tembakau yang mulai habis terbakar Mbah Ropi’i mengatakan ”Sertifikat atas nama mbak saya. Kan tidak salah. Kalau saya dilaporkan, katanya saya yang cerobot tanah. Padahal yang cerobot kan PT Soekarli, bukan saya. 2014 itu belum terdaftar, baru terdaftar itu 2025 September tanggal 12 atau tanggal 14 itu kan yang menyerobot di mereka. Kalau di sana jadi maling itu, dia sudah mengakui sendiri. Belum ditanyain, belum di BAP, tapi dia sudah mengakui bahwa dia itu maling. Dia itu mencerobot.” Di usianya yang tidak lagi muda, raga yang menua tidak menjadi alasan bagi beliau untuk menghentikan langkahnya dalam melawan ketidakadilan yang terjadi di desanya. Sosoknya menjadi api semangat bagi warga lainnya yang juga merasa terdesak oleh keadaan.
Konflik ini bukanlah perkara kecil, melainkan sebuah pusaran panas konflik agraria antara Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng), PT Soekarli, dan warga. Di tengah situasi yang penuh tekanan, Organisasi Tani Lokal (OTL) bernama Paguyuban Petani Kawulo Alit memberikan wadah konsolidasi bagi masyarakat. Salah satu bentuk perlawanan simbolis yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan acara Ruat Lahan. Acara ini menjadi wujud nyata bahwa warga Dayunan tidak akan pernah takut dengan semua ancaman-ancaman yang dilayangkan oleh Polda Jateng. Berdasarkan penyampaian Mbah Ropi’i, selama ini saat para petani melakukan aksi, pihak Polda tidak memberikan respons lanjutan yang berarti. Pengabaian ini menjadi salah satu alasan kuat yang menginisiasi terbentuknya acara Ruat Tanah sebagai bentuk pernyataan sikap warga.
Acara Ruat Tanah berlangsung selama dua hari, dimulai dari tanggal 3 hingga 4 April. Pemilihan tanggal tersebut tidak dilakukan secara sembarang, melainkan berdasarkan hasil perhitungan tanggal baik yang dihitung sendiri oleh warga Dayunan menurut tradisi mereka. Meskipun Ruat Tanah ini mungkin hanya berlangsung dua hari. Namun gema solidaritasnya diyakini akan bertahan jauh lebih lama dari sekadar hitungan tanggal baik tersebut. Melalui ritual ini, warga diingatkan kembali bahwa tanah bukan sekadar komoditas untuk dirampas, melainkan bagian dari jiwa yang harus dijaga layaknya menjaga anak sendiri. Selama doa-doa masih dipanjatkan dan tangan-tangan jaringan masih bertautan, ‘setan-setan’ fiktif itu takkan pernah benar-benar bisa menguasai langkah mereka.
Kehadiran dukungan dari luar juga menjadi faktor krusial. Dari konsolidasi-konsolidasi yang diadakan oleh teman-teman LBH maupun dari warga sendiri, muncul sebuah kesadaran bahwa pendidikan tidak harus selalu hadir dari bangku-bangku sekolah formal. Masyarakat belajar bahwa mereka bisa mendapatkan pendidikan di mana pun, termasuk di rumah-rumah petani yang tertindas, tempat di mana diskusi mengenai hak dan keadilan bergulir setiap harinya. Di balik hiruk-pikuk acara ini, terselip pesan besar bahwa warga Dayunan tidak sedang berjuang sendirian di sunyinya kaki Gunung Prau. Kehadiran teman-teman jaringan menjadi suntikan semangat yang sangat berarti bagi para petani yang selama ini dipaksa berhadapan dengan hukum dan ancaman. Kegiatan ini menyatukan tekad untuk terus melawan segala upaya perampasan hak oleh pihak PT Soekarli. Melalui kebersamaan ini pula, warga menyandarkan harapan agar keberkatan Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah mereka dalam menjaga tanah garapan agar tidak jatuh ke tangan para perenggut hak.
Salah satu bentuk nyata dari solidaritas ini datang dari Edi, seorang teman jaringan yang datang jauh-jauh dari Tayu untuk memberikan dukungannya. Ia menyampaikan “Kegiatan ini ditujukan sebagai sarana berkumpul bersolidaritas membangun kekuatan untuk petani supaya lebih kuat dan secara tidak langsung memberi gambaran besar petani disini memiliki banyak jaringan dari banyaknya jaringan diharapkan petani bisa lebih kuat hatinya bisa lebih besar lagi untuk melakukan perlawanan perlawanan dari PT yang merebut hak mereka.” Meskipun Dayu bukan warga setempat, kontribusinya tidak mengenal pamrih. Letak geografis Desa Dayunan yang terpencil tak menjadi halangan bagi Edi dan kawan-kawannya untuk membantu warga menyiapkan setiap detail kecil acara ini.
Dalam dinginnya malam, warga bersama teman-teman jaringan memadati kursi untuk menyaksikan penampilan puisi yang dipadukan dengan seni tari, teater yang dibawakan anak-anak Desa Dayunan, hingga campursari yang paling dinantikan. Suasana perlahan mencair ketika dagelan tampil, memancing tawa yang terdengar lepas di antara kerumunan. Untuk sesaat, persoalan yang mereka hadapi tidak lagi menjadi pusat perhatian, tergantikan oleh kebersamaan yang terasa hangat. Anak-anak pun duduk tenang di pangkuan ibunya, menyaksikan jalannya acara dengan penuh perhatian. Hingga larut malam, kegiatan itu menjadi cara sederhana bagi warga untuk tetap bertahan tanpa harus terus-menerus larut dalam kesulitan.
Kehangatan suasana malam itu juga terasa dari cara warga menyambut setiap teman jaringan yang datang. Di sela-sela acara, obrolan kecil dan tawa ringan mengalir begitu saja, tanpa kesan canggung antara warga dan pendatang. Di tengah berbagai tuduhan tak berdasar dari pihak luar, senyum tulus warga Desa Dayunan tidak luntur sedikitpun. Situasi ini, memperlihatkan potret nyata bagaimana warga mampu menyulap keterpencilan geografis menjadi sebuah panggung seni untuk bersenang-senang, sekaligus menjadi ruang pendidikan gratis di antara rumah-rumah petani yang tengah berjuang melawan penindasan.
Penulis : Ditya
Editor : Syasi Julia